Mendidik Itu Membimbing Anak, Bukan Membentuk Anak

15
Ilustrasi | Foto; freepik

Terkadang kita sebagai orang tua sering kali bersikap egois terhadap anak. Saya mau anak saya beginilah, saya mau anak saya jadi itulah, saya mau anak saya seperti anak tetangga depan rumahlah, daaannn lain sebagainya. Alhasil anak tak dapat berekspresi, berkreasi, tak bersemangat, melakukan segala sesuatu dengan terpaksa dan ia tak dapat menunjukkan jati diri mereka  yang sesungguhnya. Bahkan ia akan merasa tertekan. Duh, kasihan kan? Bukankah sudah menjadi tugas penting orangtua untuk menemukan talenta dan potensi anak? Memaksa adalah cara terburuk dalam mendidik anak.

Otak itu tidak bisa dipaksa loh. Jika kita mempelajari tentang anatomi otak, terdapat sebuah bagian dari otak yang disebut dengan sistem limbik, gunanya adalah mengatur  dan mengelola emosi manusia. Bagian inilah yang memproses berbagai jenis perasaan manusia seperti perasaan marah, sedih, bahagia, tertekan, frustasi dan lain sebagainya. Tapi, yang perlu di garis bawahi oleh kita semua, sistem limbik ini bisa mengontrol kapan otak bisa efektif bekerja dan kapan otak kita menjadi malas bekerja. Nah loh, kenapa bisa seperti itu ya?

Ternyata oh ternyata, otak kita ini baru akan efektif bekerja jika sistem limbik tersebut berada dalam emosi positif, seperti gembira, bahagia, semangat, motivasi, optimis yang akan membuat otak bekerja dan menyimpan informasi dengan baik. Namun sebaliknya, otak akan malas atau tidak mau bekerja jika sistem limbik tersebut berada dalam emosi negatif seperti sedih, kecewa, takut, frustasi, paksaan, khawatir dan lain sebagainya. Itu sebabnya, mengapa paksaan terhadap anak untuk melakukan hal yang bukan passion dia itu tidak baik, tidak ada hasilnya. Sekalipun ada hasilnya, itu mungkin akan tidak maksimal atau tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Mulailah kikis rasa egois yaa mom, dad. Lihat, amati dan pelajari apa bakat serta kelebihan mereka. Setiap anak mempunyai keunikan masing-masing loh. Jangan pernah menyepelekan itu.  Mendidik itu membimbing anak, bukan membentuk anak. Ukuran sukses dan berhasilnya seorang anak bukan hanya sekedar pada banyaknya materi kok, tapi juga kepuasan dan kebahagiaan. Buat apa anak kita sukses dan bergelimpahan uang nantinya jika tak ada kebahagiaan didalam hatinya?

Selamat menjadi orangtua yang bijak.

Tinggalkan Balasan