Dari Luka Jadi Benci, Dari Benci Jadi Luka. Apakah maksudnya??

18
Ilustrasi | Foto: pinkycloud.com

Terkadang ketika kita merasakan luka dihati yang begitu menyentuh segenap perasaan pasti yang kita rasakan adalah kesedihan, amarah, dan sebagainya. Nah, dari emosi-emosi itu pasti akan berpengaruh pula pada emosional kita. Mari Konseling membandingkan dua tipe orang yang berbeda dalam menghadapi kondisi seperti ini.

Tipe pertama. Seseorang pada tipe pertama ini sudah cukup mengenali dirinya sehingga ia mampu mengendalikan keadaan dalam dirinya terutama ketika sedang bergejolak emosionalnya.

Emosi yang seperti apa sih?

Apapun itu, baik emosi dalam hal bahagia, sedih, ataupun marah. Mereka yang termasuk tipe pertama ini mampu mengatasi keadaan dirinya yang sedang sedih dengan berusaha tetap tenang dan segera berdamai dengan dirinya.

Lalu ketika mereka sedang merasa bahagia mereka mampu menempatkan untuk benar-benar meluapkan kebahagiaannya dan cenderung membagikan kebahagiaan tersebut kepada orang lain untuk memberikan energi positif baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain di sekitarnya.

Dan ketika dia merasa sedang marah ataupun kecewa, mereka pada tipe pertama ini akan berusaha untuk tetap tenang dan semaksimal mungkin menahan emosinya agar tidak ada orang lain yang terluka olehnya.

Mereka merasa cukuplah dirinya yang merasakan amarah tersebut dan tidak dengan orang lain di sekitarnya.

Biasanya hal yang mereka lakukan adalah berusaha menghibur diri mereka sendiri dengan melakukan hal-hal yang mereka senangi, meluapkan apa yang dirasakannya melalui bercerita dengan orang yang mereka percayai dengan tujuan untuk membuat dirinya jauh lebih tenang agar dia lupa dengan amarahnya.

Dan mereka pun kembali berusaha untuk berdamai dengan hatinya agar emosi yang ada dalam dirinya tak semakin membesar dan justru berangsur hilang.

Biasanya si tipe pertama ini mampu berpikir rasional dan positif ketika menghadapi permasalahan-permasalahannya sekalipun itu menyakitkan.

Tipe kedua. Orang-orang pada tipe kedua ini mungkin sudah cukup mengenal dirinya tetapi mereka belum mampu mengendalikan dirinya. Mereka tau tapi mereka tidak benar-benar merubah sifatnya.

Ketika mereka sedang merasakan emosi yang meluap dalam hatinya mereka akan jauh lebih ekspresif, saat mereka merasa sedih mereka akan menangis tersedu-sedu dan sulit untuk ditenangkan bahkan dirinya sendiripun tak mampu, hanya sampai dia merasa lelah barulah dia berhenti.

Lalu apabila mereka sedang merasa bahagia mereka pun akan meluapkan kebahagiaannya bahkan terkadang terlalu berlebihan. Dan ketika mereka pada tipe kedua ini sedang merasa marah dan kecewa mereka akan melampiaskan amarahnya pada apapun yang ada didekatnya.

Mereka sering mengalami kesulitan untuk mengendalikan dirinya terutama pada saat mereka sedang marah dan kecewa. Mereka merasa bahwa ketika mereka kecewa dan marah dengan orang lain maka orang tersebut pantas mendapatkan balasan.

Tipe yang seperti ini juga mempunyai sifat pendendam. Sehingga ketika mereka merasa dikecewakan yang begitu dalam mereka akan lakukan apapun untuk membalasnya.

Biasanya si tipe kedua ini kurang mampu berpikir rasional ketika mereka sedang menghadapi permasalahan dalam hidupnya, sehingga baginya apapun yang terlintas dalam pikirannya akan langsung mereka lakukan.

Dalam ilmu psikologi sifat pendendam ini termasuk kedalam sifat agresi. Dimana agresi tersebut memiliki pengertian yaitu sebuah perilaku fisik maupun verbal yang diniatkan untuk melukai sasaran agresi.

Biasanya orang-orang yang memiliki sifat tersebut ketika mereka merasa marah ataupun kecewa dan dirinya sendiri kurang mampu mengendalikan, mereka akan berusaha untuk melukai objek tertentu untuk meluapkan amarahnya.

Objek tersebut dapat berupa benda mati disekitarnya, dirinya sendiri, ataupun orang yang membuatnya kecewa atau marah. Dan hal ini tentunya membahayakan bagi si orang yang memiliki sifat agresi tersebut dan juga bagi mereka yang menjadi sasaran agresi.

Sifat agresi ini termasuk sifat yang negatif jika konotasinya adalah karena rasa benci, sehingga perlu segera untuk diperbaiki.

Jenis-jenis dari agresi ini sendiri ada dua, yaitu agresi rasa benci atau rasa emosi (memiliki konotasi negatif dan menimbulkan kerugian) dan agresi sebagai sarana untuk mencapai tujuan lain (tidak menimbulkan emosi, contohnya seorang polisi yang menembak pelaku kejahatan yang ingin kabur.

Mereka menembak karena ada tujuan yang ingin dicapai yaitu untuk mengamankan pelaku bukan semata-mata karena polisi tersebut memiliki dendam dengan si pelaku).

Perlu kita ketahui juga bahwa sumber dari agresi ini ada yang berasal dari dalam diri adapula yang berasal dari luar diri, seperti gangguan yang dilakukan orang lain terhadapnya, rangsangan yang tidak disukainya, keadaan frustasi, adanya peran atribusi, dan terakhir karena benda mati.

Pertanyaannya bisakan sifat agresi ataupun rasa marah itu diredakan?

Jawabannya adalah bisa. Rasa marah ataupun sifat agresi yang berkonotasi negatif utamanya bisa diredakan melalui terapi terapi. Terapi-terapi yang dapat dilakukan adalah seperti terapi agama, melakukan pendekatan dengan Yang Maha Kuasa, baik dengan beribadah secara rutin, ataupun sering mengikuti kajian-kajian agama yang biasanya dalam lingkungan keagamaan pasti terdapat lingkungan yang bersifat positif sehingga mampu memberikan energi positif pula bagi orang-orang yang ingin merubah sifat agresinya atau rasa marahnya.

Lalu terapi yang kedua adalah terapi psikologi. Kamu yang ingin berdamai dengan amarahmu dapat menemui psikolog untuk dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam dirimu dan dengannya kamu akan mendapatkan solusi serta terapi-terapi yang mampu tenangkan amarahmu. Dan yang terakhir kamu yang ingin memiliki sifat lebih tenang dari biasanya ketika sedang marah dapat lakukan terapi relaksasi.

Niatkan diri kamu untuk berubah lalu kamu dapat lakukan terapi relaksasi dengan kegiatan fisik seperti olahraga yoga ataupun meditasi misalnya. Kalau kamu merasa kesulitan untuk melakukan hal tersebut sendiri, kamu dapat pula meminta bantuan orang lain atau ahlinya agar kamu benar-benar mendapatkan ketenangan yang kamu inginkan.

Pastikan bahwa kamu melakukan terapi-terapi tersebut dengan sungguh-sungguh karena niat baik kamu untuk berubah menjadi pribadi yang selalu berpikir positif agar dikemudian hari kamu bisa lebih mengendalikan amarah atau emosi yang ada dalam dirimu itu dan terapi yang kamu jalanipun agar tidak sia-sia.

Jadi kamu termasuk tipe yang mana?

Yuk lakukan hal yang positif dan pengaruhi dirimu sendiri dengan berbagai hal yang positif pula, agar kamu terhindar dari sifat agresi ataupun sifat-sifat lain yang negatif. Apalagi kalau sampai merugikan diri sendiri, jangan sampai yaa.

Semoga bermanfaat J(DLA)

Tinggalkan Balasan